SURABAYA — Komisariat Al-Fatih PMII Cabang Surabaya Selatan resmi melantik pengurus periode 2026–2027 di Graha Harakah, Jumat (28/8/2026). Pelantikan tersebut menjadi momentum regenerasi sekaligus langkah awal kepengurusan baru untuk memperkuat internal komisariat dan meningkatkan kualitas kader di tengah dinamika organisasi mahasiswa.
Pelantikan yang berlangsung pukul 14.30 hingga 18.00 WIB tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Cabang PMII Surabaya Selatan, Zainal Hakim. Kegiatan dihadiri oleh kader Komisariat Al-Fatih, jajaran Pengurus Komisariat Al-Fatih, serta Pengurus Cabang PMII Surabaya Selatan. Syahrial Abdul Aziz resmi mengemban amanah sebagai Ketua Komisariat Al-Fatih untuk periode 2026–2027.
Syahrial mengatakan, pelantikan tidak hanya dimaknai sebagai pergantian kepengurusan, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat kembali hubungan internal antara pengurus dan kader. Menurutnya, keberlanjutan kaderisasi perlu diarahkan pada pembentukan kader yang tidak hanya mampu meneruskan regenerasi organisasi, tetapi juga memiliki nilai dan daya juang.
“Pelantikan ini menjadi momentum untuk memperkuat kembali internal Komisariat Al-Fatih, baik pengurus maupun kader. Kami ingin kaderisasi ke depan tidak hanya berbicara tentang regenerasi, tetapi bagaimana mewujudkan kader yang bernilai dan memiliki daya juang tinggi,” ujar Syahrial.
Penguatan kualitas kader menjadi salah satu perhatian utama kepengurusan baru. Syahrial menilai proses tersebut perlu dimulai dari kemampuan kader dalam mengenali potensi dirinya atau self-awareness. Kesadaran terhadap potensi tersebut diharapkan menjadi dasar bagi kader untuk mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan kapasitas intelektual.
“Fokus kami dimulai dari internal agar kader Al-Fatih benar-benar tumbuh secara kualitas,” katanya.
Arah tersebut kemudian diterjemahkan melalui semangat WANI, yang menjadi salah satu gagasan utama kepengurusan periode 2026–2027. WANI dimaknai sebagai keberanian untuk berpikir, berkembang, berkarya, mandiri, dan bergerak. Semangat tersebut menjadi kerangka bagi upaya penguatan kapasitas kader sekaligus internal komisariat.
Selain pengembangan intelektualitas dan kreativitas, kepengurusan baru juga menaruh perhatian pada kemampuan digital dan kemandirian finansial. Penguatan pada aspek tersebut diarahkan agar kader tidak hanya berkembang dalam lingkungan organisasi, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat menunjang perannya di tengah perubahan zaman.
Di sisi lain, Syahrial menegaskan bahwa kepengurusan baru tidak akan meninggalkan nilai dan tradisi yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya. Semangat kebersamaan dan kaderisasi tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas Al-Fatih. Namun, penerapannya akan disesuaikan dengan kebutuhan kader dan perkembangan zaman tanpa menghilangkan semangat perjuangan yang menjadi dasar organisasi.
Target kepengurusan 2026–2027, lanjut Syahrial, adalah melihat kader Al-Fatih semakin mampu mengenali potensinya, berkembang secara intelektual dan keterampilan, serta berani mengambil peran. Penguatan internal komisariat dan keberlangsungan finansial juga menjadi bagian dari target yang hendak dicapai selama satu periode kepengurusan.
“Kami ingin memperkuat internal terlebih dahulu. Melalui semangat WANI berpikir, berkembang, berkarya, mandiri, dan bergerak. kami ingin mewujudkan kader Al-Fatih yang bernilai dan memiliki daya juang tinggi,” tutur Syahrial.
Pelantikan tersebut dengan demikian menjadi lebih dari sekadar seremoni pergantian kepengurusan. Bagi Komisariat Al-Fatih, momentum tersebut menjadi bagian dari keberlanjutan estafet kaderisasi sekaligus upaya menerjemahkan nilai-nilai yang telah diwariskan ke dalam kebutuhan kader dan tantangan organisasi mahasiswa saat ini.