Sejarah Komisariat Al-Fatih merupakan bagian dari perjalanan panjang kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di lingkungan IAIN Sunan Ampel Surabaya yang kemudian bertransformasi menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya. Sebelum berdirinya Komisariat Al-Fatih, aktivitas kaderisasi PMII di lingkungan IAIN Sunan Ampel berada dalam naungan PMII Cabang Surabaya. Pada masa tersebut, IAIN Sunan Ampel memiliki lima fakultas dan menjadi salah satu basis kaderisasi PMII yang cukup besar. Perkembangan jumlah kader dan dinamika organisasi kemudian mendorong munculnya gagasan untuk membangun ruang kaderisasi yang lebih mandiri bagi mahasiswa di wilayah Surabaya Selatan.
Pada tahun 2000, muncul inisiatif dari sejumlah aktivis PMII untuk membentuk PMII Cabang Wonocolo sebagai struktur yang terpisah dari PMII Cabang Surabaya. Inisiatif tersebut dilatarbelakangi oleh perkembangan jumlah kader di lingkungan IAIN Sunan Ampel serta dinamika internal organisasi. Beberapa aktivis yang disebut memiliki peran dalam proses tersebut adalah Thoriqul Haq, Ali Musthofa, dan Bahar. Gagasan pembentukan cabang tersebut kemudian memperoleh dukungan dan persetujuan dari berbagai pihak hingga pada akhirnya PMII Cabang Wonocolo dideklarasikan pada 18 November 2000 di Hotel Tunjungan, dengan Sahabat Ali Musthofa sebagai ketua cabang pertama.
Perkembangan organisasi terus berlangsung hingga pada tahun 2003 PMII Cabang Wonocolo berganti nama menjadi PMII Cabang Surabaya Selatan. Perubahan tersebut dilakukan karena nama Wonocolo dianggap memiliki cakupan wilayah yang terlalu spesifik, sedangkan Surabaya Selatan memiliki ruang geografis dan orientasi kaderisasi yang lebih luas. Perubahan nama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas serta memperluas proses kaderisasi PMII di wilayah Surabaya Selatan. Pada periode berikutnya, Surabaya Selatan berkembang menjadi salah satu basis kaderisasi PMII yang cukup aktif, dengan jumlah kader yang besar dan aktivitas kajian yang berlangsung secara rutin.
Kultur kaderisasi pada masa awal dibangun melalui kedekatan sosial dan emosional antaranggota. Kegiatan organisasi tidak hanya berlangsung dalam forum formal, tetapi juga melalui ruang-ruang pertemuan informal yang menjadi tempat kader berkumpul, berdiskusi, dan membangun hubungan antargenerasi. Kader baru didekati melalui proses pengenalan dan penciptaan rasa nyaman sebelum diarahkan pada proses kaderisasi yang lebih formal. Pendekatan berbasis kedaerahan juga menjadi salah satu cara untuk membangun kedekatan dengan anggota baru. Pola tersebut membentuk karakter kaderisasi yang menempatkan hubungan emosional sebagai salah satu kekuatan utama organisasi.
Kondisi tersebut semakin berkembang ketika terjadi perubahan besar dalam lingkungan akademik IAIN Sunan Ampel. Transformasi IAIN Sunan Ampel menjadi UIN Sunan Ampel membawa perubahan pada struktur dan komposisi fakultas. Selain fakultas-fakultas yang telah berkembang sebelumnya, hadir pula bidang keilmuan baru seperti Sains dan Teknologi, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Psikologi, serta Ekonomi dan Bisnis Islam. Kehadiran fakultas-fakultas baru tersebut menciptakan kebutuhan kaderisasi baru karena sebagian fakultas belum memiliki basis senior dan kader PMII yang kuat. Perubahan inilah yang kemudian menjadi salah satu latar belakang utama lahirnya Al-Fatih.
Tahun 2013 menjadi titik awal terbentuknya Rayon Al-Fatih. Setelah pelaksanaan MAPABA 2013, terdapat sejumlah kader yang berasal dari berbagai fakultas dan membutuhkan wadah kaderisasi lintas fakultas. Pada saat itu, kader PMII Surabaya Selatan masih banyak terkonsentrasi pada fakultas-fakultas tertentu, sementara perkembangan fakultas baru membutuhkan ruang kaderisasi yang lebih luas. Atas dasar kebutuhan tersebut, dibentuklah Rayon Persiapan Al-Fatih sebagai wadah bagi kader lintas fakultas di lingkungan PMII Surabaya Selatan. Banyaknya kader yang mengikuti proses MAPABA pada periode tersebut memperkuat kebutuhan untuk membangun struktur rayon yang mampu mengelola kaderisasi secara lebih terarah.
Sejak awal pembentukannya, Al-Fatih diarahkan sebagai ruang kaderisasi lintas fakultas. Nama Al-Fatih menjadi identitas yang merepresentasikan semangat untuk membuka ruang kaderisasi yang lebih luas dan mampu menjangkau mahasiswa dari berbagai latar belakang fakultas. Keberadaan rayon ini menjadi penting karena perkembangan UIN Sunan Ampel telah menciptakan lingkungan akademik yang semakin beragam. Al-Fatih kemudian menjadi wadah yang mempertemukan kader dari berbagai fakultas dalam satu ruang kaderisasi PMII Surabaya Selatan.
Pada periode awal, proses kaderisasi Al-Fatih berlangsung dengan mengutamakan pendekatan kultural. Hubungan antara kader baru dan kader lama dibangun tanpa sekat yang terlalu kaku. Kader baru terlebih dahulu dikenalkan dengan lingkungan organisasi, diajak membangun kedekatan, kemudian diarahkan untuk memahami nilai-nilai perjuangan PMII. Tradisi ini menjadi salah satu karakter yang terus diwariskan dalam tubuh Al-Fatih. Bagi Al-Fatih, keberlangsungan organisasi tidak hanya ditentukan oleh struktur formal, tetapi juga oleh kedekatan emosional antarangkatan. Ketika hubungan antarkader terbangun dengan kuat, muncul rasa memiliki dan kemauan untuk bergerak bersama dalam menjalankan organisasi.
Tahun 2014 menjadi fase penting dalam perkembangan Al-Fatih. Setelah melalui proses kaderisasi dan penguatan organisasi, Rayon Al-Fatih mulai mengembangkan struktur kaderisasi yang lebih luas. Pada bulan Maret 2014 dilaksanakan rapat kerja yang salah satu fokusnya adalah penguatan kaderisasi lintas fakultas. Perkembangan jumlah kader kemudian mendorong terbentuknya dua rayon, yaitu Rayon Al-Kindi dan Rayon Al-Farabi. Al-Kindi pada awal perkembangannya berkaitan dengan basis Psikologi, sedangkan dalam perkembangan berikutnya mengalami penguatan sebagai basis kaderisasi Sains dan Teknologi. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa struktur Al-Fatih terus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan kader dan perubahan lingkungan fakultas.
Pada tanggal 31 Oktober hingga 2 November 2014, Rayon Al-Fatih menyelenggarakan MAPABA dengan tema "Rekonstruksi Gerakan Mahasiswa Terwujud dalam Integritas Kader Berbasis Militan, Responsif, dan Solutif". Rangkaian kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam perjalanan Al-Fatih karena pada saat yang sama dilakukan deklarasi Komisariat Al-Fatih dengan Sahabat M. Khoirul Murtadlo sebagai ketua umum. Peristiwa tersebut menandai perubahan posisi Al-Fatih dari sebuah rayon lintas fakultas menjadi komisariat yang memiliki tanggung jawab lebih luas dalam mengelola kaderisasi di lingkungan PMII Surabaya Selatan.
Setelah menjadi komisariat, Al-Fatih semakin diarahkan untuk menjadi salah satu pusat kaderisasi bagi fakultas-fakultas baru di UIN Sunan Ampel. Sains dan Teknologi menjadi salah satu basis penting karena pada masa awal perkembangannya belum memiliki banyak senior PMII. Kondisi tersebut membuat proses kaderisasi harus dibangun secara bertahap dari awal. Dalam perkembangannya, basis Sains dan Teknologi kemudian menjadi salah satu lumbung kaderisasi PMII Surabaya Selatan. Kader-kader yang tumbuh dari lingkungan tersebut tidak hanya aktif dalam kegiatan PMII, tetapi juga mulai mengambil peran dalam berbagai organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus.
Perkembangan Al-Fatih juga ditopang oleh tradisi intelektual yang kuat. Pada masa awal, terdapat pola kajian rutin yang dilaksanakan setiap Rabu dan Kamis dengan materi yang dimulai dari filsafat. Kajian menjadi ruang bagi kader untuk membangun kemampuan berpikir, berdiskusi, dan memahami persoalan sosial secara lebih kritis. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu identitas Al-Fatih yang menempatkan keberanian berpikir dan menyampaikan pendapat sebagai bagian penting dalam proses kaderisasi.
Semangat tersebut kemudian dikenal melalui slogan "WANI" yang dimaknai sebagai keberanian. WANI bukan sekadar keberanian dalam bertindak, tetapi keberanian untuk bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat, mengkritisi persoalan, serta membicarakan isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat. Tradisi tersebut menjadi salah satu karakter yang membedakan kultur kaderisasi Al-Fatih. Kader didorong untuk tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga berani menguji, mempertanyakan, dan mengembangkan pengetahuan melalui diskusi.
Namun, perjalanan Al-Fatih tidak selalu berjalan dalam kondisi yang stabil. Sekitar tahun 2019, Al-Fatih mengalami salah satu fase sulit dalam proses regenerasi, terutama pada basis Sains dan Teknologi. Jumlah kader mengalami penurunan hingga tersisa sekitar sepuluh orang pada periode tersebut. Kondisi tersebut menjadi salah satu titik kritis karena keberlangsungan kaderisasi berada dalam keadaan yang sangat terbatas. Fase tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan kaderisasi pada satu periode tidak secara otomatis menjamin keberlangsungan organisasi pada periode berikutnya.
Di tengah kondisi tersebut, Al-Fatih tetap berusaha mempertahankan keberadaan dan proses kaderisasinya. Perubahan pola kehidupan mahasiswa serta pandemi yang terjadi pada tahun 2020 turut memberikan tantangan baru terhadap aktivitas organisasi. Pola interaksi dan kaderisasi mengalami perubahan, tetapi proses untuk mempertahankan organisasi tetap berjalan. Pada sekitar tahun 2021, Al-Fatih kembali mengalami proses kebangkitan kaderisasi. Fase tersebut menjadi momentum penting untuk membangun kembali basis kader setelah melewati masa krisis dan perubahan sosial yang cukup besar.
Dari seluruh perjalanan tersebut, dapat dilihat bahwa kekuatan Al-Fatih tidak hanya terletak pada struktur organisasi, tetapi juga pada nilai dan hubungan yang dibangun antaranggota. Salah satu prinsip yang terus ditekankan adalah pentingnya rasa memiliki terhadap organisasi. Al-Fatih tidak dibangun secara instan, melainkan melalui perjuangan para senior yang berusaha menyediakan wadah kaderisasi bagi generasi berikutnya. Karena itu, keberadaan Al-Fatih tidak cukup hanya dipertahankan melalui nama dan struktur kepengurusan, tetapi harus dihidupkan melalui nilai-nilai perjuangan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Nilai tersebut tercermin dalam gagasan untuk "menghidupi dan dihidupi". Organisasi menjadi ruang tempat kader memperoleh ilmu, pengalaman, nilai perjuangan, serta proses pembentukan diri. Sebaliknya, kader memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan kembali pengetahuan dan nilai tersebut melalui tindakan nyata di lingkungan kampus maupun masyarakat. Ilmu yang diperoleh dalam proses kaderisasi tidak berhenti di dalam forum, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sosial sebagai bentuk manifestasi perjuangan PMII.
Oleh karena itu, sejarah Al-Fatih pada akhirnya bukan hanya sejarah mengenai kapan sebuah rayon dibentuk atau kapan sebuah komisariat dideklarasikan. Sejarah Al-Fatih merupakan sejarah tentang proses membangun ruang kaderisasi di tengah perubahan lingkungan kampus, memperluas basis kader dari fakultas lama menuju fakultas-fakultas baru, membangun tradisi intelektual, menghadapi krisis regenerasi, dan kemudian berusaha bangkit kembali. Dari Rayon Al-Fatih pada tahun 2013 hingga menjadi Komisariat Al-Fatih pada tahun 2014 dan berkembang dalam berbagai fase setelahnya, setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan sejarah tersebut.
Warisan terbesar Al-Fatih bukan semata-mata jumlah kader atau struktur organisasi yang pernah dibangun, melainkan nilai yang berhasil diwariskan. Keberanian untuk berdiskusi, kedekatan antarkader, keterbukaan antara senior dan junior, tradisi intelektual, rasa memiliki, serta keberanian untuk menerapkan ilmu dalam kehidupan masyarakat merupakan bagian dari identitas yang membentuk perjalanan Al-Fatih. Dengan demikian, mempertahankan Al-Fatih berarti bukan hanya mempertahankan sebuah nama, tetapi menjaga nilai perjuangan yang menjadi alasan mengapa wadah tersebut dibangun dan terus dihidupkan oleh generasi-generasi setelahnya.
Source:Â
Wawancara dengan Mas Robeth (Senior Komisariat Al-Fatih PMII SS)
Wawancara dengan Kom Pocong (Komisariat Pertama)
Modul MAPABA 2024