Penulis:
Dana Listiana, Lisyawati Nurcahyani, dan Any Rahmayani
Editor:
Asep Ruhimat & Izzudin Irsam Mujib
Tahun terbit:
2019
(Prakata bertanggal November 2019 dan pengantar penerbit bertanggal Desember 2019.)
Penerbit:
CV Media Jaya Abadi, Padalarang–Bandung
ISBN:
978-623-7526-11-7
Kategori:
Sejarah & Ilmu Sosial
Subkategori:
Nasionalisme, Sejarah Pergerakan Kebangsaan, Pers & Sejarah Kalimantan Barat
Bahasa:
Indonesia
Jumlah halaman:
±130 halaman isi
Wacana Nasionalisme dalam Pers Kalimantan Barat pada Masa Pergerakan Kebangsaan merupakan buku bunga rampai yang mengkaji pertumbuhan gagasan nasionalisme di Kalimantan Barat melalui perkembangan pers cetak pada masa kolonial. Buku ini ditulis oleh Dana Listiana, Lisyawati Nurcahyani, dan Any Rahmayani dengan editor Asep Ruhimat dan Izzudin Irsam Mujib. Buku ini secara khusus berusaha memperlihatkan bahwa perkembangan nasionalisme Indonesia tidak hanya berlangsung di pusat-pusat pergerakan di Pulau Jawa, tetapi juga tumbuh melalui berbagai dinamika lokal di Kalimantan Barat. Buku ini menarik karena menggunakan pers sebagai pintu masuk untuk memahami sejarah pemikiran dan mentalitas masyarakat. Gejala nasionalisme di Kalimantan Barat ditelusuri melalui belasan media cetak yang terbit sejak dekade 1920-an hingga 1940-an. Media massa pada masa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran berita, tetapi juga menjadi ruang untuk menyebarkan gagasan, memperdebatkan identitas, membangun kesadaran kebangsaan, dan menyampaikan kritik terhadap kolonialisme.
Pembahasan pertama mengangkat kemandirian ekonomi sebagai salah satu akar nasionalisme dalam pers cetak Kalimantan Barat pada tahun 1920-an. Buku memperlihatkan bahwa gagasan mengenai kemandirian ekonomi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan pers lokal dan dinamika nasionalisme kedaerahan. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa fase, termasuk fase awal 1919–1927 yang lebih kritis dan dipengaruhi gagasan sosialisme serta komunisme, kemudian fase 1927–1941 yang semakin memperlihatkan penggunaan gagasan nasionalisme dalam konteks Borneo atau Borneo Barat. Pembahasan berikutnya berfokus pada pemikiran Haji Rais bin Abdoerrachman, seorang tokoh yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan pers dan organisasi pergerakan di Kalimantan Barat. Pemikirannya mengenai kemandirian dalam berbagai bidang disampaikan melalui pers sebagai upaya mendorong masyarakat agar tidak bergantung kepada pemerintah kolonial. Ia juga terlibat dalam berbagai organisasi kebangsaan, seperti Sarekat Islam, Sarekat Rakyat, Parindra, dan Persatoean Anak Borneo (PAB).
Bagian ketiga membahas Persatoean Anak Borneo (PAB) dan gagasan kebangsaan yang muncul melalui majalah Kesedaran dan Doenia Pemoeda pada tahun 1940. Kajian ini menunjukkan bagaimana organisasi pergerakan lokal menggunakan media sebagai sarana untuk mengartikulasikan identitas dan gagasan kebangsaan. Secara keseluruhan, buku ini memperlihatkan bahwa nasionalisme Indonesia merupakan proses yang bertahap dan memiliki banyak bentuk sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, politik, dan budaya daerah masing-masing. Nasionalisme di Kalimantan Barat tidak hadir dalam ruang kosong, tetapi berkembang melalui interaksi antara pers, organisasi pergerakan, tokoh lokal, masyarakat, dan kondisi kolonial.